Minggu, 13 November 2011

Gilai Kamu

Hanya dari jauh saja. Cukup dari jauh saja dalam diamku aku nikmati pesonamu. Tidak perlu kau tahu. Aku lebih suka menyimpannya. Tidak akan basi, karena kututup rapat jauh di dalam anganku.

Tentang Nia

Namanya siapa aku tidak tahu. Yang aku tahu dia seorang janda muda beranak satu. Pertemuan pertamaku dengannya di situ, toko kecil pojok jalan. Aku akui dia cantik. Ah, tapi standart seperti perempuan lain pada umumnya. Matanya bulat indah. Bulu matanya juga lentik. Rambutnya diikat tapi poninya lepas terurai. Punya lesung pipi. Make up-nya tidak terlalu ramai. Polos, natural, klasik, wajahnya putih. Tapi aku menolak untuk mengatakan dia ayu. Deah, nggak penting banget!

Teluk Mandar

Merayap ombak pada pasirmu
Berbuih jadi embun
Sambut senyum Pesandeq
Tegap perkasa menghantam deru ombak
Berlari labuhkan Sandeq ke selat luas

Meng-kita.

Aku ngapel bawa dua merek minuman
yang katanya milik kapitalis,
plus Terang Bulan dan sedikit kue kering.
Lalu kita tertawa lepas di bawah bulan terang
bicara kisah cinta Marx, sedikit Gie.
Jalanan makin sunyi di bawah remang lampu
malam.

Eh, Kamu?!

"Wah, sudah lama ya?!" spontan kau menyapa tanpa salam pembuka atau sekadar basabasi. Sebelumnya kita saling awas memeriksa, saling mengamati dengan mata, siapa ya?. Benar itu kamu, awalnya aku ragu. Ya, itu kamu! Betapa ingat aku dengan lesung pipimu itu, yang merekah menarik perhatian sekitar. Itu lesung pipi yang pernah aku coba menyusup jauh ke dalamnya, yang aku temukan tentunya bukan sekadar lesung pipi.

Di Tikungan Saja

bantal guling: mau ke mana?
saya: ke Tikungan aj kok...
batal guling: kamu punya guling-guling yang lain ya?
saya: lho, kok nanya gitu? kenapa? kamu cemburu?
bantal guling: anggak kok, cuma kamu jarang aj di kosan temani saya...
saya: biasa aja kalee, saya ke Tikungan mau belajar kok!
bantal guling: kamu marah sama aku?

Nyanyian Jemuran(mu).

:zaki
kucekan kain yang dirembesi air
terus menerus. terus menerus. dan lagi
sekuat tenaga dalam kurus tubuhmu
terus menerus. terus menerus. dan lagi
bunyi akibat dari itu bersahut-sahutan, gantian
terus menerus. terus menerus. dan lagi
duh, seksinya! kamu dalam situasimu

"Senyum Manto"

...Manto namanya, tetangga Anjar. Jatuh cinta si Manto kepada Nilam adek tetangganya itu sejak masih bocah ingusan. Bahkan sejak masih Bocah yang tiada capek terus bermain, Manto selalu mencuri pandang pada pujaan hati. Sampai saat ini, menjadi pemuda lugu nan polos. Mencuri pandang memang perbuatan pecundang. Manto menyadari betul hal itu. Apa boleh buat, dalam strata di masyarakatnya, Manto itu rendahan.

Mencarimu?!

Terus aku cari di mana kamu. Terus ingin aku temui di mana kamu. Ingin aku melihatmu, terus melihatmu. Tidak perlu aku belai mesra dirimu. Tidak usah aku peluk erat tubuhmu. Tidak mesti aku kecup keningmu. Tidak wajib kau sandarkan kepalamu di bahuku lalu aku kucium rambutmu. Cukup melihatmu dari jauh. Hanya merasakanmu dari 50 meter jarak aku dan kamu. Kamu adalah satu persoalan yang mampu mendefinisikan rasa dan nyaman. Kamu adalah “ada” yang mengusir senyap dan sunyi puisi-puisiku. Lunglai dan layu diri dibelai dingin dan beku suasana. Itulah kamu yang terus aku cari.

Pantai Manis!

Sudah Pukul 03.36 WIB, Tanggal 1 Januari, Tahun 2010. Ya, ampun! Kita melewatkan pergantian tahun semalam. Tapi tidak apa manis, jangan menggugat diri, karena mendung di langit adalah laku alam. Hujan di pergantian tahun ini hanya sebentar saja, dan sekarang sudah redah. Jadi jangan pesimis, kita tetap bisa bersama merasakan tahun yang berganti. Tidak tahu aku, pukul berapa tepatnya hujan mulai redah. Tapi di luar tenda semilir angin dari daratan ke laut, membawa hangat suhu tanah. Lihatlah, angin tidak terlalu kencang, tapi sepoi-sepoi angin bertiup setelah hujan. Sepoi-sepoinya perlahan, lihat ilalang di bawah pohon itu, indah bukan? Ilalang yang bermandikan cahaya petromak, dibelai mesra semilir angin, lembut! Embun mulai turun perlaham, menari-nari di atas rumput yang berbunga.

Masih Ada Aku Simpan.

Masih Mayangku! Masih aku simpan rapi satu cinta yang kau titipkan padaku. Satu cinta yang pernah kita benihkan lalu ditanam menancap mengakar di pot hati. Dia mekar bersemi mewarna lesu hari menjadi begitu berarti. Masih aku siram setiap pagi dan sore dengan air yang aku ambil di sumur belakang. Masih aku jaga dengan sabar, dengan satu keyakinan dia (cinta) tetap hidup di pot hatiku.
***

Ditapuk!

Saya ditapuk amanah
Dengan gemuruh tepuk tangan
Dengan tepuk dipundak dari sekian orang

Akan Aku Bagi dengan Siapa Rahasiaku?

Aku punya rahasia! Tapi tidak tahu mau berbagi dengan siapa? Karena tentunya tidak sembarangan orang yang bisa mengerti bahkan memahami rahasiaku. Tidak sembarangan orang yang dengan legowo paham betul yang aku rasakan. Tidak sembarangan orang yang mau memposisikan dirinya menjadi diriku. Bagaimana kalau seseorang menjadi seorang aku, yang tahu betul bagaimana rasaku. Minimal dia mau mengcopy paste segala hal di diriku ke dalam dirinya. Copy paste bukan dalam artian memalsukan diriku di dalam dirinya. Bukan!

Kotak Harapan

Tidak ada yang membangunkan, tapi tiba-tiba saja saya bangun sendiri. Luar biasa tidak seperti hari biasa, malas-malasan dengan hari yang biasa. Yang tidak biasa hari ini adalah mengambil kotak-kotak berisi harapan tentang sesuatu yang "mengimingi" kepastian. Dan sudah bisa ditebak, bocah ingusan pun bisa menebaknya. Bahwa sesuatu yang mengimingi kepastian adalah sebuah ketidakpastian. Begitu kotak itu aku jemput dengan suka cita. Mentari si pembuka tirai hari kini menjadi temanku mewarnai hariku. Ia tidak lagi menjadi musuhku yang panasnya bikin malas. Aku menyambut hangatnya, burung-burung kecil dan bunga-bunga basah oleh embun pun demikian. Hari ini kami bersuka cita, mengambil kotak harapan yang berisi ketidakpastian itu.

Lagi, Situasi Ini Lalu Menjadi Apa?

Terlalu melampaui saat aku mencoba menalar situasi yang mencengkeram engkau dan aku. Situasi di mana teka-teki makna yang coba aku temukan. Terlalu memapaui hal-hal yag biasa, hal yang mudah untuk dijalani juga mudah dimengerti. Mestinya aku tidak terlalu kelewat seperti itu. Mestinya aku cukup menemanimu tertawa lepas, menemanimu sibuk bercerita, dan menemanimu memandangi kelap-kelip bintang. Aduh, aduh, lagi-lagi aku mengarakan kepada makna! Kenapa harus makna yang mendekat dalam lingkaran situasi. Di mana aku dan kau ditakdirkan untuk saling mengenal.

Arti Kau dan Aku (Chapter 1)

Aku bilang; lapar! Lalu kau jawab; ayo ke cafe! Kita tergerak dengan tujuan yang sama, makan! Suatu peristiwa yang jujur dari kata perut yang meronta ingin diisi. Itu satu kejadian yang betul-betul terjadi begitu saja, mengalir tanpa rencana. Tidak perlu berterima kasih dengan perut yang menjadi sebab dari peristiwa ini. Di mana kau dan aku duduk satu meja, berhadapan, ada lilin besar berwarna merah di tengahnya. Light effect dari lilin membuat sekitarnya berwarna sephia termasuk wajahmu dan wajahku. Tapi aku tidak ingin berkata itu romantis! Tidak, karena buatku itu terlalu cepat. Aku tidak tahu, bagaimana denganmu? Apakah ketika kita mengatakan peristiwa ini sebuah yang romatis, lalu buatmu itu menjadi terlalu cepat? Aku tidak ingin menebak.
***

Sajak untuk; Ario Sandy

Kalimat pembuka yang pertama ingin aku katakan; maafkan aku Dek!
Ada banyak hal yang terlewatkan
Yang kadang aku cuek tidak mau tahu
Tentang kamu Adekku

Arti Kau dan Aku (Chapter 2)

Kau memesan nasi goreng dan jus melon. Sementara aku memesan bakso dua mangkok dan soda gembira. Kita melahap makanan masing-masing. Kadang kau tersenyum melihat aku makan sedikit agak kalap. Sesekali aku mengambil nasi gorengmu dengan sendokku lalu kulahap. Setelah itu dua mangkok baksoku aku amankan darimu. Tidak terima kau bilang ada Nikolas Saputra lewat! Aku menengok, lalu aku bilang; mana? Seketika dua butir baksoku lenyap ditelan engkau. Kita saling mengejek dan perang sendok seperti anak kecil. Tidak peduli dengan orang sekitar yang mengatai kita abnormal. Setelah makan habis, kau bilang ingin mencoba minumanku, siapa tahu ada racunnya. Aku tidak memberikan soda gembiraku, tapi menjauhkannya darimu, soalnya itu trik basi untuk meminum yang bukan miliknya.

Salam Perpisahan Untuk Sore Ini.

Saat ini tentunya dari hati ke hati kita sama-sama setuju. Ya, Kau dan Aku! Tanpa harus saling memberitahu atau bahkan mengumbar informasi. Kejujuran yang tidak sama sekali kita sembunyikan; pertemuan hari itu di suatu tempat di mana kita sering bertemu dan sibuk bercerita adalah “tanpa rencana dan tanpa alasan yang jelas”.

Selanjutnya

Lama Kelamaan Aku...
Berkisah tentang; "Cinta yang Malu-malu"
Gadis menelponku. Aku kaget, ada apa gerangan? Gadis bilang sesuatu yang sangat penting. Sekalian kita jalan-jalan alasannya. Kesatu tempat yang tidak penting untuk sekadar sibuk bercerita lalu tertawa lepas! Pantai tempatnya. Gadis dan Aku tiba-tiba sudah berada di Pantai. Duduk di atas rumput di bawah rindangnya pohon kelapa sambil minum es degan. Menunjuk burung beterbangan di pinggir laut, memunguti kerang-kerang, berkejar-kejaran dengan ombak, dan bermain pasir. Jika Gadis dan Aku kelelahan, kami berdua kempali duduk di atas rumput di bawah nyiur, diterpa sang bayu yang sepoi-sepoi. Gadis dan Aku saling berpandangan, tapi agak menjaga jarak. Spontan kami tertawa lepas, entah karena apa.

Lama Kelamaan Aku...

Lama, lama sekali aku pandangi monitor komputer ini. Kaki aku angkat, lalu meja menopangnya. Sesekali aku mengepulkan asap kretek, kalau dihitung sudang batang yang ke lima. Kopi menjadi tidak lagi panas perlahan mulai dingin. Keberanian dan kenekatan menulis satu kata pertama, sudah dari tadi aku kumpulkan, tapi tak satu pun kata yang muncul di layar monitor. Terus aku berpikir untuk kata pertama yang harus aku tulis, plin-plan! Sampai tak ada satu kata yang muncul di monitor. Komputer dan jariku sudah bosan dari tadi menunggu, dan menunggu itu membosankan. Jam yang paling bosan dengan sikapku, terus berputar, terus berjalan tak ada maklum untukku, lalu dia cuek seraya menertawai aku.

Tulisan ingin aku buka dengan “pagi dan embun” tapi sudah tidak pagi dan berembun lagi. Bait pertama ingin aku buka dengan “sore” tapi suasana belum terlalu sore. “Siang yang cerah”, susunan kata pertama yang akan memulai tulisan ini, tapi sedang hujan dan tidak sedang cerah. Hujan perlahan berhenti dan air di daun-daun perlahan menguap. Kubuka tulisan dengan kata “kupu-kupu dan kumbang” tapi tak ada kupu-kupu dan kumbang karena bunga-bunga sedang layu dipermainkan hujan. Setiap kata yang “rela” memulai tulisan yang hendak aku buat kuperlakukan dengan; Ctrl A + Del. Begitu seterusnya berulang-ulang. Semua yang ada di ruangan ini mulai berang dengan sikapku, plin-plan! Sehingga seisi ruangan ini mengalamatkan marahnya padaku!

Perlahan mataku terpejam. Badan aku sandarkan di kursi dengan nyaman. Keretek masih terjepit jari tengan dan telunjukku. Pikiranku lalu mengembara ke mana-mana. Mengembara ke luar merubuhkan tembok ruangan ini. Melampaui waktu di sini aku ingin menulis. Terus pikiranku mengembaran ke mana-mana mendalami sendiri apa saja yang sedang aku pikirkan. Kretek yang terjepit di jariku perlahan-lahan habis di makan api. Aku kaget karena apinya menyegat jariku. Dan, pengembaraanku tidak menghasilkan apapun! Kumatikan kretek, menghirup udara panjang dan memperbaiki posisi dudukku; duduk manis menghadap monitor, jari di tuts keyboard dan konsentrasi tanpa-malas-malasan. Coba aku tidak memikirkan kata-kata pertama yang ingin aku tulis. Tapi aku memikirkan apa yang akan aku tulis. Aku yakin, kata-kata akan keluar dengan sendirinya.

Ingin menulis tentang kematian aku tidak bisa. Karena aku memang belum pernah merasakan kematian, dan aku belum pernah benar-benar mati. Ingin menulis tentang perempuan, aku tidak bisa. Karena aku memang tidak pernah bisa memahami makhluk yang satu ini. Ingin aku tulis tentang keberanian, aku tidak bisa. Bagaimana mungkin! Menghadapi perempuan saja aku tidak berani. Dan keberanian menghadapi perempuan masuk kategori keberanian selain keberanian yang lainnya. Misalnya kepahlawanan atau harga diri.

Ingin aku tulis tentang “kisahku denga dia”. Tidak bisa! Tidak pantas dan untuk apa menuliskannya. Sudahlah, lupakan saja kisahku dengan dia! Aku ingin menulis tentang sejarah, tidak bisa. Berdamai dengan masa lalu saja sulitnya minta ampun! Dan aku tidak punya ketabahan juga kekokohan untuk berdamai dengan masa lalu. Terutama masa laluku dengan dia. Masa lalu semacam itu juga bagian atau masuk kategori sejarah. Menyinggung masa lalu hanya akan membikin aku rapuh serapuh-rapuhnya! Aku lemas, kepalaku menunduk, ingin mengumpat rasanya. Tapi umpatan itu tidak keluar dari mulut menjadi suara menggelegar nan melegahkan, lepas dengan emosi. Hanya umpatan dalam hati saja, umpatan yang semakin menggelembungkan emosi lalu basi jadi penyakit.

Oh iya, sial! Tidak terpikirkan, bukankah kematian, perempuan, keberanian, kisahku dengan dia, juga sejarah bisa aku ciptakan sendiri dengan imajinasiku?! Yap, tulisan fiksi tepatnya. Semua aku ciptakan sendiri; tokoh, setting tempat, plot, dan lainnya. Ya...ya...ya... tidak terpikirkan!

Hey, ada yang mengetuk diriku!” kata pintu menegurku yang masih memaki dalam diri. Anjing, tahi, kuda, temanku yang sangat kubenci, serta berbagai jenis benda hidup dan mati menjadi sasaran yang patut aku jadikan simbol umpatanku. Dan kulakukan dengan hati!

Asyuuu...!” aku mengumpat pelan mendengar ketukan di pintu ruangan ini. Buyar dan hilang konsentrasi yang dari tadi aku kumpulkan untuk menelorkan tulisan. Serentetan umpatan pun keluar bersuara dengan datar tapi bertubi-tubi membabi buta dari mulutku. Tetap simbol umpatan yang aku gunakan; anjing, tahi, kuda, temanku yang sangat kubenci, serta berbagai jenis benda hidup dan mati, beruntun bergandengan seperti kereta api umpatan itu. Dengan tenang aku berjalan ke arah pintu lalu membukanya.

Hai, lagi ngapain?” sesosok perempuan yang “aku kenal” berdiri di depan pintu kamar yang aku buka. Oh bukan, bukan yang aku kenal, tapi “sangat” aku kenal! Hmmm, sangat “dekat” mungkin!? Ah, diam-diam aku “menyukainya” dalam arti yang sebenar-benarnya. Selalu hadir dalam lamun dan nina boboku, aku jatuh cinta padanya. Tapi kenapa aku harus tahu, kalau sebenarnya dia tidak tahu aku jatuh cinta!

Hai!” aku memandanginya tanpa berkedip.

Kok kamu lihat aku seperti itu sih?!” ujarnya mengeryitkan alis. Dia tersenyum. Cantik, sumpah! Lalu aku pura-pura mengalihkan pandanganku ke dalam ruangan ini, seraya mengajaknya masuk. Aku kok pintar mengaburkan perasaanku ya!

“Ini aku bawakan kue! Punya banyak tidak bisa aku habiskan, diberikan sama warga tempatku KKN. Karena aku lewat depan kosan kamu sekalian saja aku mampirkan di sini.” kata dia, dan lagi-lagi dia tersenyum, cantik! Kali ini pakai kata-kata “sekali”; cantik sekali!

“Terima kasih!” jawabku singkat, datar, tapi tulus dari hati menerima kantong plastik berisi kue itu.

“Oh iya, kalau begitu aku langsung saja ke kampus ya! Soalnya ada kuliah jam setengah enam.” ujarnya, seraya matanya yang bulat tapi seksi itu melihat jam di dinding ruangan ini. Tapi jam dinding ruangan ini masih pukul lima pas!

“Ah, kau terburu-buru sekali manis! Aku masih ingin sibuk bercerita denganmu!” kataku dalam hati.

Ayok ya...!!!” katanya, lalu bergegas menuju pintu, keluar dari ruangan ini.

Eh, makasi lho kuenya!” kataku kepadanya.

Dia berjalan menuju gerbang ruangan ini, aku terus mengawasinya. Dia berbalik, lalu melempar senyum kepadaku. Dalam diam, pura-pura memasang sosok berwibawa, tenang, tapi sangat senang, riang dan gembira aku sambut senyuman itu dengan membalas senyumnya. Lalu dia menyalakan “Vario-nya” keluar halaman menuju jalan, kampus! Sementara aku, masih saja terdiam meratapi kebodohanku. Sangat bodoh karena pintar menyembunyikan kejujuran.

Yeah, aku dapat inspirasi! Akan aku tulis tentangmu gadis! Ya, akan aku tulis; “Cantik Senyummu dalam Kue Onde-onde”. Aku bergegas ke depan komputer memperbaiki posisi dudukku; duduk manis menghadap monitor, jari di tuts keyboard dan konsentrasi tanpa-malas-malasan. Susunan kata yang muncul membabi buta di monitor jika dilihat dengan mata telanjang;

“...merindumu mebikin napasku tidak beraturan. Ayu wajahmu, baik hatimu, dan polos gelagatmu mengalahkan harum dan indah bunga-bunga. Kamu telah melakukan “teror lamunan” tanpa ampun, hadir seperti hantu! Oh, tahukan kau gadis?! Aku diam-diam mencintaimu, sungguh! Tapi, kenapa aku harus protes kalau aku cemburu melihatmu sangat dekat dengan cowok lain?! Kenapa aku harus protes, memangnya aku siapanya kamu?? Dan kau tidak pernah tahu kalau aku cemburu, karena aku sembunyikan dengan rapi. Buat apa protes, itu hak-mu, tapi aku cemburu......()+(*^%$^&*&*((^&*%^%$$#^)(&)&)&)^(*%&%*&%$&%^*)&()$%@@%#%^%...”

Maka, sampai di situ berhentilah aku menulis! Aku lemas, meratapi kondisiku. Meratapi hal-hal tidak mungkin, tidak pasti, dan tidak nyata; memilikinya! Aku diam sejenak, emosiku mulai terakumulasi menjadi satu, dan siap meledak dan meluluhlantahkan apa saja yang ada di ruangan ini. Monitor komputer aku hamtam dengan keyboard, lalu aku banting ke lantai ruangan ini. Jam yang menertawaiku aku copot dan kulemparkan ke monitor hancur itu. Kututup dengan sprei dan kursi serta bantal juga kertas-kertas yang berserakan. Lalu aku bakar seisi ruangan ini beserta diriku yang bodoh karena pintar menyembunyikan kejujuran. Dan itu terjadi, dalam kehebatan imajinasi otakku! [...the end...]


Jember, 6 Oktober 2010

NB: kuenya aku makan dalam imajinasi otakku...

Tanpa Alasan Apapun.

Sering;
Aku membetulkan letak selimut yang membungkus tubuhmu
Tanpa alasan yang jelas
Bukan karena agar kau tak kedinginan.

Aku mengusap peluh di wajahmu yang seksi itu dengan tisu putih
Tanpa alasan yang jelas
Bukan karena agar kau tak terlihat gerah.

H-2 (Chapter 1); Kamar No. 7

Kota ini begitu sepi, sunyi, agak mencekam bagai kuburan! Hanya dedaunan tua tapi basah berjatuhan perlahan di tepi jalan. Lalu daun-daun itu tersapu hembus angin ke berbagai penjuru jalan, melayang-layang, mendarat dengan anggunya. Dingin cuaca setelah hujan, tanah terlihat masih basah, jalan sepi sunyi. Hanya seekor kucing kurus berwajah senyap yang melintas di sudut jalan kota ini. Walaupun menjelang Hari Raya Idul Firti.

Kau Gadis, Tahu Rasa? (3)

Seperti biasa pagi datang. Pagi-pagi yang seperti biasa. Dingin embun menerobos masuk dalam ruang di sini aku bersajak. Embun jatuh di halaman depan dengan anggunnya. Hinggap perlahan di daun lalu menetes dari pucuknya, jatuh ditanah yang masih mengantuk. Rumput pun rela menadah, sehingga telihat hamparan permadani yang mengkristal.
Ada juga embun yang masih asik menari-nari di udara bebas. Saat orang-orang berjalan menikmati pagi, embun menerpa wajah. Lalu tersenyumlah mereka dengan wajah merah merona didandan embun pagi. Embun merangkai burung-burung kecil bernyanyi di ranting-ranting pohon. Saat mentari menampakwajah, embun menyambut sinarnya. Hariku hidup diterpa pantulan sinar pagi dari Mentari dan sang embun. Wajahku bersinar, bumi bersinar, seperti sinar fantasyyang memantul-mantul. Ini pagi-pagi yang seperti biasa. Lalu menjadi sepanjang hari yang biasa.

Kau Gadis, Tahu Rasa? (2)

Oh..oh..oh..terkembang begitu manis senyummu Gadis! Saat aku potret kau di dekat jendela ruangan penuh kenangan ini. Cantik kau, membuat hatiku berbunga-bunga. Tahukah kau Gadis. Gambar manismu yang kubekukan dengan kamera kesayanganku adalah karya terbaikku, hanya untukmu saja. Mulai dari angle, cahaya, diafragma, fokus, warna, dan lainnya menjadi satu harmoni yang begitu perfect aku atur. Persembahan paling spesial tentunya hanya untukmu, Gadis. Ya, hanya untukmu saja.
Di ruangan penuh kenangan ini aku masih saja memandangi gambar manismu. Lama kupandangi, seraya kadang aku tersenyum manis, kecut, pahit, dan asin bercampur menjadi satu lalu kadang hambar terasa senyumku ini. Sesekali dadaku terasa sesak, teraduk-aduk tapi masih bisa tegak aku, tidak layu. Tapi aku tidak cengeng, dan tidak tertarik menangis karena wanita.
***

Kau Gadis, Tahu Rasa?

Begitu bahagia aku. Sepanjang hari ini hanya milik aku dan dia. Ya, kami berdua! Setelah mengguyur badanku dengan banyu, kuusap butiran air yang di sekujur tubuh yang menetes-netes jatuh ke lantai. Dengan handuk kering yang selalu aku cuci seminggu 4 kali, lembut putih warnanya.
Kupakai parfum terbaik dan termahal (kata penjual parfum) yang kubeli khusus untuk hari ini. Kaos terbersih dan celana panjang terkeren pula. Tak peduli aku. Dan, aku padamu.
***

Meong Pallo Karallae

Kau setia
Menyusur tanah penuh kerikil tajam di badan eksotik tanah Bugis
Angin menari-nari menemani jejakmu
Awan menggulung-gulung kadang memayungimu dalam gersang dan gerah di tanah Daeng

Di Samping Makam Soekarno (Chapter 3)

Selamat sore kuucapkan salam kepada Bapak Revolusi
Salam setengah merdeka!
Untuk kemerdekaan yang tidak gratis di tumpah darahku Indonesia

Di Samping Makam Soekarno (Chapter 2)

Permisi Pak Soekarno!
Selamat Sore!
Oh maaf, saya duduk disini yah, maaf sekali lagi saya langsung duduk tanpa permisi!
Maaf juga kurang sopan Pak!
Merdeka!

Di Samping Makam Soekarno (Chapter 1)

Permisi!
Halo Pak Soekarno!
Selamat Sore!
Saya duduk disini ya!