Minggu, 13 November 2011
Gilai Kamu
Tentang Nia
Teluk Mandar
Meng-kita.
Eh, Kamu?!
Di Tikungan Saja
Nyanyian Jemuran(mu).
"Senyum Manto"
Mencarimu?!
Pantai Manis!
Masih Ada Aku Simpan.
***
Ditapuk!
Dengan gemuruh tepuk tangan
Dengan tepuk dipundak dari sekian orang
Akan Aku Bagi dengan Siapa Rahasiaku?
Kotak Harapan
Lagi, Situasi Ini Lalu Menjadi Apa?
Arti Kau dan Aku (Chapter 1)
***
Sajak untuk; Ario Sandy
Ada banyak hal yang terlewatkan
Yang kadang aku cuek tidak mau tahu
Tentang kamu Adekku
Arti Kau dan Aku (Chapter 2)
Salam Perpisahan Untuk Sore Ini.
Selanjutnya
Berkisah tentang; "Cinta yang Malu-malu"
Gadis menelponku. Aku kaget, ada apa gerangan? Gadis bilang sesuatu yang sangat penting. Sekalian kita jalan-jalan alasannya. Kesatu tempat yang tidak penting untuk sekadar sibuk bercerita lalu tertawa lepas! Pantai tempatnya. Gadis dan Aku tiba-tiba sudah berada di Pantai. Duduk di atas rumput di bawah rindangnya pohon kelapa sambil minum es degan. Menunjuk burung beterbangan di pinggir laut, memunguti kerang-kerang, berkejar-kejaran dengan ombak, dan bermain pasir. Jika Gadis dan Aku kelelahan, kami berdua kempali duduk di atas rumput di bawah nyiur, diterpa sang bayu yang sepoi-sepoi. Gadis dan Aku saling berpandangan, tapi agak menjaga jarak. Spontan kami tertawa lepas, entah karena apa.
Lama Kelamaan Aku...
Lama, lama sekali aku pandangi monitor komputer ini. Kaki aku angkat, lalu meja menopangnya. Sesekali aku mengepulkan asap kretek, kalau dihitung sudang batang yang ke lima. Kopi menjadi tidak lagi panas perlahan mulai dingin. Keberanian dan kenekatan menulis satu kata pertama, sudah dari tadi aku kumpulkan, tapi tak satu pun kata yang muncul di layar monitor. Terus aku berpikir untuk kata pertama yang harus aku tulis, plin-plan! Sampai tak ada satu kata yang muncul di monitor. Komputer dan jariku sudah bosan dari tadi menunggu, dan menunggu itu membosankan. Jam yang paling bosan dengan sikapku, terus berputar, terus berjalan tak ada maklum untukku, lalu dia cuek seraya menertawai aku.
Tulisan ingin aku buka dengan “pagi dan embun” tapi sudah tidak pagi dan berembun lagi. Bait pertama ingin aku buka dengan “sore” tapi suasana belum terlalu sore. “Siang yang cerah”, susunan kata pertama yang akan memulai tulisan ini, tapi sedang hujan dan tidak sedang cerah. Hujan perlahan berhenti dan air di daun-daun perlahan menguap. Kubuka tulisan dengan kata “kupu-kupu dan kumbang” tapi tak ada kupu-kupu dan kumbang karena bunga-bunga sedang layu dipermainkan hujan. Setiap kata yang “rela” memulai tulisan yang hendak aku buat kuperlakukan dengan; Ctrl A + Del. Begitu seterusnya berulang-ulang. Semua yang ada di ruangan ini mulai berang dengan sikapku, plin-plan! Sehingga seisi ruangan ini mengalamatkan marahnya padaku!
Perlahan mataku terpejam. Badan aku sandarkan di kursi dengan nyaman. Keretek masih terjepit jari tengan dan telunjukku. Pikiranku lalu mengembara ke mana-mana. Mengembara ke luar merubuhkan tembok ruangan ini. Melampaui waktu di sini aku ingin menulis. Terus pikiranku mengembaran ke mana-mana mendalami sendiri apa saja yang sedang aku pikirkan. Kretek yang terjepit di jariku perlahan-lahan habis di makan api. Aku kaget karena apinya menyegat jariku. Dan, pengembaraanku tidak menghasilkan apapun! Kumatikan kretek, menghirup udara panjang dan memperbaiki posisi dudukku; duduk manis menghadap monitor, jari di tuts keyboard dan konsentrasi tanpa-malas-malasan. Coba aku tidak memikirkan kata-kata pertama yang ingin aku tulis. Tapi aku memikirkan apa yang akan aku tulis. Aku yakin, kata-kata akan keluar dengan sendirinya.
Ingin menulis tentang kematian aku tidak bisa. Karena aku memang belum pernah merasakan kematian, dan aku belum pernah benar-benar mati. Ingin menulis tentang perempuan, aku tidak bisa. Karena aku memang tidak pernah bisa memahami makhluk yang satu ini. Ingin aku tulis tentang keberanian, aku tidak bisa. Bagaimana mungkin! Menghadapi perempuan saja aku tidak berani. Dan keberanian menghadapi perempuan masuk kategori keberanian selain keberanian yang lainnya. Misalnya kepahlawanan atau harga diri.
Ingin aku tulis tentang “kisahku denga dia”. Tidak bisa! Tidak pantas dan untuk apa menuliskannya. Sudahlah, lupakan saja kisahku dengan dia! Aku ingin menulis tentang sejarah, tidak bisa. Berdamai dengan masa lalu saja sulitnya minta ampun! Dan aku tidak punya ketabahan juga kekokohan untuk berdamai dengan masa lalu. Terutama masa laluku dengan dia. Masa lalu semacam itu juga bagian atau masuk kategori sejarah. Menyinggung masa lalu hanya akan membikin aku rapuh serapuh-rapuhnya! Aku lemas, kepalaku menunduk, ingin mengumpat rasanya. Tapi umpatan itu tidak keluar dari mulut menjadi suara menggelegar nan melegahkan, lepas dengan emosi. Hanya umpatan dalam hati saja, umpatan yang semakin menggelembungkan emosi lalu basi jadi penyakit.
Oh iya, sial! Tidak terpikirkan, bukankah kematian, perempuan, keberanian, kisahku dengan dia, juga sejarah bisa aku ciptakan sendiri dengan imajinasiku?! Yap, tulisan fiksi tepatnya. Semua aku ciptakan sendiri; tokoh, setting tempat, plot, dan lainnya. Ya...ya...ya... tidak terpikirkan!
“Hey, ada yang mengetuk diriku!” kata pintu menegurku yang masih memaki dalam diri. Anjing, tahi, kuda, temanku yang sangat kubenci, serta berbagai jenis benda hidup dan mati menjadi sasaran yang patut aku jadikan simbol umpatanku. Dan kulakukan dengan hati!
“Asyuuu...!” aku mengumpat pelan mendengar ketukan di pintu ruangan ini. Buyar dan hilang konsentrasi yang dari tadi aku kumpulkan untuk menelorkan tulisan. Serentetan umpatan pun keluar bersuara dengan datar tapi bertubi-tubi membabi buta dari mulutku. Tetap simbol umpatan yang aku gunakan; anjing, tahi, kuda, temanku yang sangat kubenci, serta berbagai jenis benda hidup dan mati, beruntun bergandengan seperti kereta api umpatan itu. Dengan tenang aku berjalan ke arah pintu lalu membukanya.
“Hai, lagi ngapain?” sesosok perempuan yang “aku kenal” berdiri di depan pintu kamar yang aku buka. Oh bukan, bukan yang aku kenal, tapi “sangat” aku kenal! Hmmm, sangat “dekat” mungkin!? Ah, diam-diam aku “menyukainya” dalam arti yang sebenar-benarnya. Selalu hadir dalam lamun dan nina boboku, aku jatuh cinta padanya. Tapi kenapa aku harus tahu, kalau sebenarnya dia tidak tahu aku jatuh cinta!
“Hai!” aku memandanginya tanpa berkedip.
“Kok kamu lihat aku seperti itu sih?!” ujarnya mengeryitkan alis. Dia tersenyum. Cantik, sumpah! Lalu aku pura-pura mengalihkan pandanganku ke dalam ruangan ini, seraya mengajaknya masuk. Aku kok pintar mengaburkan perasaanku ya!
“Ini aku bawakan kue! Punya banyak tidak bisa aku habiskan, diberikan sama warga tempatku KKN. Karena aku lewat depan kosan kamu sekalian saja aku mampirkan di sini.” kata dia, dan lagi-lagi dia tersenyum, cantik! Kali ini pakai kata-kata “sekali”; cantik sekali!
“Terima kasih!” jawabku singkat, datar, tapi tulus dari hati menerima kantong plastik berisi kue itu.
“Oh iya, kalau begitu aku langsung saja ke kampus ya! Soalnya ada kuliah jam setengah enam.” ujarnya, seraya matanya yang bulat tapi seksi itu melihat jam di dinding ruangan ini. Tapi jam dinding ruangan ini masih pukul lima pas!
“Ah, kau terburu-buru sekali manis! Aku masih ingin sibuk bercerita denganmu!” kataku dalam hati.
“Ayok ya...!!!” katanya, lalu bergegas menuju pintu, keluar dari ruangan ini.
“Eh, makasi lho kuenya!” kataku kepadanya.
Dia berjalan menuju gerbang ruangan ini, aku terus mengawasinya. Dia berbalik, lalu melempar senyum kepadaku. Dalam diam, pura-pura memasang sosok berwibawa, tenang, tapi sangat senang, riang dan gembira aku sambut senyuman itu dengan membalas senyumnya. Lalu dia menyalakan “Vario-nya” keluar halaman menuju jalan, kampus! Sementara aku, masih saja terdiam meratapi kebodohanku. Sangat bodoh karena pintar menyembunyikan kejujuran.
Yeah, aku dapat inspirasi! Akan aku tulis tentangmu gadis! Ya, akan aku tulis; “Cantik Senyummu dalam Kue Onde-onde”. Aku bergegas ke depan komputer memperbaiki posisi dudukku; duduk manis menghadap monitor, jari di tuts keyboard dan konsentrasi tanpa-malas-malasan. Susunan kata yang muncul membabi buta di monitor jika dilihat dengan mata telanjang;
“...merindumu mebikin napasku tidak beraturan. Ayu wajahmu, baik hatimu, dan polos gelagatmu mengalahkan harum dan indah bunga-bunga. Kamu telah melakukan “teror lamunan” tanpa ampun, hadir seperti hantu! Oh, tahukan kau gadis?! Aku diam-diam mencintaimu, sungguh! Tapi, kenapa aku harus protes kalau aku cemburu melihatmu sangat dekat dengan cowok lain?! Kenapa aku harus protes, memangnya aku siapanya kamu?? Dan kau tidak pernah tahu kalau aku cemburu, karena aku sembunyikan dengan rapi. Buat apa protes, itu hak-mu, tapi aku cemburu......()+(*^%$^&*&*((^&*%^%$$#^)(&)&)&)^(*%&%*&%$&%^*)&()$%@@%#%^%...”
Maka, sampai di situ berhentilah aku menulis! Aku lemas, meratapi kondisiku. Meratapi hal-hal tidak mungkin, tidak pasti, dan tidak nyata; memilikinya! Aku diam sejenak, emosiku mulai terakumulasi menjadi satu, dan siap meledak dan meluluhlantahkan apa saja yang ada di ruangan ini. Monitor komputer aku hamtam dengan keyboard, lalu aku banting ke lantai ruangan ini. Jam yang menertawaiku aku copot dan kulemparkan ke monitor hancur itu. Kututup dengan sprei dan kursi serta bantal juga kertas-kertas yang berserakan. Lalu aku bakar seisi ruangan ini beserta diriku yang bodoh karena pintar menyembunyikan kejujuran. Dan itu terjadi, dalam kehebatan imajinasi otakku! [...the end...]
Jember, 6 Oktober 2010
NB: kuenya aku makan dalam imajinasi otakku...
Tanpa Alasan Apapun.
Aku membetulkan letak selimut yang membungkus tubuhmu
Tanpa alasan yang jelas
Bukan karena agar kau tak kedinginan.
Aku mengusap peluh di wajahmu yang seksi itu dengan tisu putih
Tanpa alasan yang jelas
Bukan karena agar kau tak terlihat gerah.
H-2 (Chapter 1); Kamar No. 7
Kau Gadis, Tahu Rasa? (3)
Ada juga embun yang masih asik menari-nari di udara bebas. Saat orang-orang berjalan menikmati pagi, embun menerpa wajah. Lalu tersenyumlah mereka dengan wajah merah merona didandan embun pagi. Embun merangkai burung-burung kecil bernyanyi di ranting-ranting pohon. Saat mentari menampakwajah, embun menyambut sinarnya. Hariku hidup diterpa pantulan sinar pagi dari Mentari dan sang embun. Wajahku bersinar, bumi bersinar, seperti sinar fantasyyang memantul-mantul. Ini pagi-pagi yang seperti biasa. Lalu menjadi sepanjang hari yang biasa.
Kau Gadis, Tahu Rasa? (2)
Di ruangan penuh kenangan ini aku masih saja memandangi gambar manismu. Lama kupandangi, seraya kadang aku tersenyum manis, kecut, pahit, dan asin bercampur menjadi satu lalu kadang hambar terasa senyumku ini. Sesekali dadaku terasa sesak, teraduk-aduk tapi masih bisa tegak aku, tidak layu. Tapi aku tidak cengeng, dan tidak tertarik menangis karena wanita.
***
Kau Gadis, Tahu Rasa?
Kupakai parfum terbaik dan termahal (kata penjual parfum) yang kubeli khusus untuk hari ini. Kaos terbersih dan celana panjang terkeren pula. Tak peduli aku. Dan, aku padamu.
***
Meong Pallo Karallae
Menyusur tanah penuh kerikil tajam di badan eksotik tanah Bugis
Angin menari-nari menemani jejakmu
Awan menggulung-gulung kadang memayungimu dalam gersang dan gerah di tanah Daeng
Di Samping Makam Soekarno (Chapter 3)
Salam setengah merdeka!
Untuk kemerdekaan yang tidak gratis di tumpah darahku Indonesia
Di Samping Makam Soekarno (Chapter 2)
Selamat Sore!
Oh maaf, saya duduk disini yah, maaf sekali lagi saya langsung duduk tanpa permisi!
Maaf juga kurang sopan Pak!
Merdeka!
Di Samping Makam Soekarno (Chapter 1)
Halo Pak Soekarno!
Selamat Sore!
Saya duduk disini ya!